Tentang Klitik, Proklitik, dan Enklitik

Salam, kali ini kita akan belajar mengenal tentang Klitik atau Bentuk kata yang terikat.  Ini hubungannya dengan yang banyak menemui kesulitan dalam penulisan kata 'Kau' dipisah atau disambung? nah kita akan membahas hal ini. Klitik merupakan bentuk terikat secara fonologis dan masih berstatus kata. (-nya, -mu, ku-, kau-). Klitik adalah bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa.

Dalam penulisan (kau-), (ku-), dan (-ku) yang merupakan bentuk ringkas atau klitik dari kata ganti orang pertama dan kedua dalam bahasa Indonesia, apakah ditulis serangkai atau terpisah dari kata yang mengikuti atau kata sebelumnya?

Mari kita bahas penggunaan kata Ku- dan Kau- ditulis dipisah atau digandeng? Jika Penulisan yang benar adalah disambung atau digabungkan, apakah bisa ditulis dalam bentuk sambung jika menggunakan kata 'kau'? Klitik (ku-)bersifat sebagai proklitik, namun klitik (ku-) tidak wajib sebagai proklitik.  Lalu kapan saat dipisah dan digabung?

 Klitik, Proklitik, dan Enklitik

Pengertian Klitik, Proklitik, dan Enklitik


Proklitik dan Enklitik merupakan bagian dari klitik. Jadi, klitik terdiri dari proklitik dan enklitik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

  • Klitik adalah Bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa.
  • Proklitik adalah Klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya.
  • Enklitik adalah unsur tata bahasa yang tidak berdiri sendiri, selalu bergabung dengan kata yang mendahuluinya, seperti (-mu) dan (-nya).
    Contoh proklitik: non-, anti-, ku-, kau-, ke, maha-, purna-, nir-. Contoh enklitik: -ku, -isme, -nya, -mu.

Bentuk Penulisan kata 'Ku' dan 'Kau' jika bertemu kata Kerja Pasif

Proklitik {ku-} dan {kau-} ditulis serangkai (digabung) dengan kata yang mengikutinya. Kata setelah kedua klitik ini berupa kata kerja (verba) pasif.

Contoh:
  •     kutulis; kutuliskan
  •     kurasa; kurasakan
  •     kubaca; kubacakan
  •     kauambil; kauambilkanlah
  •     kaupakai; kaupakaikan
  •     kaulihat; kauperlihatkan

Buku itu kubaca kemarin. 'kubaca' dalam kalimat itu adalah bentuk pasif: aku baca ("dibaca oleh aku").
Apakah suratku sudah kaubaca? 'kaubaca' dalam contoh kalimat kedua juga berbentuk pasif: engkau baca ("dibaca oleh engkau").


Bentuk Penulisan kata 'Ku' dan 'Kau' jika bertemu kata Kerja Aktif

Penulisan klitik (ku-) dan (kau-) jika bertemu kata Kerja Aktif harus dipisah,
contoh:  ku membaca, ku menulis, ku mengingatkan, kau membaca, kau memedulikan, dan kau memerkarakan.

Kedudukan kata 'Kau' adalah sinonim dari pronomina persona orang kedua (engkau)

Jika kata 'Kau'  bukanlah sebagai klitik, melainkan sinonim dari  kata 'engkau'. maka penulisannya terpisah.
Contoh : kau adalah hal termanis untukku.

Bentuk Penulisan kata 'Ku' bukan sinonim dari kata ganti orang  pertama (aku)

Pemakaian enkliktik -ku serupa dengan enklitik (-mu} dan (-nya), yaitu untuk menyatakan kepemilikan dan tujuan, serta ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

"Bentuk ringkas dari pronomina persona pertama; bentuk klitik aku sebagai penunjuk pelaku, pemilik, tujuan: kuambil; rumahku; memukulku."

Dalam KBBI, termasuk buku Tesaurus Bahasa Indonesia, kata (kau) bersinonim dengan {sampean}, {kamu}, {anda}, {engkau}, dan {saudara}. Tapi, tidak ada kata {ku} sebagai sinonim dari {aku}. Yang merupakan sinonim: {aku}, {saya}, {hamba}, {awak}, {beta}, {ana}, dan {gue}. Oleh karena itu, tidak benar menulis kata-kata seperti ku ingat, ku bayangkan, dan ku rindu. {ku} tidak tercatat dalam kamus bahasa sebagai sinonim dari {aku}. Seharusnya ditulis: kuingat atau aku ingat, kubayangkan atau aku bayangkan, dan kurindu atau aku rindu.


Contoh-contoh Kasus:


Mana penulisan yang benar: kauharus, kau harus

Kata {harus} sebagai adverbia, yang bermakna mesti, ditulis mandiri sebagai satu kata. Maka, yang benar: kau harus. Buku KBBI sendiri memuat contoh kalimat pada lema {harus}: kalau dia tidak datang, kau harus menggantikannya.

Tapi, sebagai kata kerja pasif, [di-]haruskan, ia boleh ditulis serangkai: apakah dia kauharuskan untuk datang besok? [Sebab Bentuk aktif kaumengharuskan tidak tepat.]

Dengan demikian, klitik {ku-} bersifat sebagai proklitik: terikat dengan kata yang mengikutinya. Namun, klitik {kau} tidak wajib sebagai proklitik, karena kau juga bisa sebagai sinonim dari kamu. Aku menyimpulkan begitu setelah memperhatikan—bukan memerhatikan—contoh-contoh kalimat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Mana yang benar: kau simpan, kausimpan, kau katakan, kaukatakan

Keempat bentuk penulisan di atas sama-sama benar. Dalam kau simpan dan kau katakan, {kau} adalah sinonim dari {engkau}. Sedangkan dalam kausimpan dan kaukatakan, {kau} sebagai bentuk ringkas alias klitik dari {engkau}.
Berarti, {kau} bisa ditulis secara manasuka—bisa serangkai dengan atau boleh terpisah dari kata yang mengikutinya?

Ya, benar, kautulislah sesuka hatimu, dan kau akan baik-baik saja, seperti halnya kalimatku ini. Mau kauperlakukan {kau} sebagai klitik ataukah sebagai sinonim dari {engkau}, terserah kaulah.

Lihat juga tentang Pergeseran Makna

Demikian mengenai Klitik, Proklitik, dan Enklitik, semoga bisa membantu yang kesulitan dalam penulisan Ku atau Kau yang disambung atau dipisah. Salam Nektarity.

1 Response to "Tentang Klitik, Proklitik, dan Enklitik"