Selamat datang di situs KOMUNITAS PENULIS FIKSI SASTRA INDONESIA - RUMPUN NEKTAR

Penyebab dan Macam-macam Pergeseran Makna

Pergeseran Makna Dalam Bahasa - Bahasa selalu berkembang sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Dengan ungkapan lain, karena pemikiran manusia berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat berkembang pula atau berubah. Perkembangan atau perubahan yang dimaksud bukan saja pada aspek bentuknya (form), melainkan juga pada aspek maknanya.

Perubahan makna ini memperoleh perhatian dari para linguis sekitar awal abad ke 19 tatkala semasiologi pertama kali memperoleh perhatian dari para linguis Jerman. Selanjutnya semasiologi ini juga berkembang di Perancis melalui para ahli sosiologi bahasa, dan pada saat itu pula mereka berupaya menempatkan berbagai perubahan yang terjadi pada makna bahasa dan membuat kategori atas dasar wilayah (daerah).

Di antara butir penting yang memperoleh perhatian dari mereka adalah kajian tentang objek perubahan makna, gambaran perubahan makna, sebag-sebab perubahan makna, dan berbagai faktor yang menyebabkan suatu kata itu tetap hidup (digunakan oleh penuturnya) dan suatu kata itu tidak digunakan lagi oleh penuturnya (mati). Dalam hal ini, Cohen dalam bukunya The Diversity of Meaning mengemukakan suatu pertanyaan, Apakah makna itu berubah? Pertanyaan ini dijawab sendiri olehnya, bahwa karena perkembangan bahasa seiring dengan perkembangan jaman, maka kata itu sendiri akan mendapatkan makna lain .

Penyebab Pergeseran Makna Dalam Bahasa


Pergeseran atau perubahan makna disebabkan karena berikut:

1. Akibat ciri dasar dasar yang dimiliki oleh unsur internal bahasa. Makna kata selain dapat memiliki hubungan yang erat dengan kata lainnya, juga bisa tumpang tindih.
2. Akibat adanya proses gramatik. Kata ibu misalnya, akibat mengalami relasi gramatik dengan kota, akhirnya tidak lagi menunjuk pada “wanita”, tetapi pada tempat atau daerah.
3. Sifat generik kata. Kata-kata dalam suatu bentuk kebahasaan, maknanya umumnya tidak pernah eksak dan sering kali bersifat lentur. Akibat adanya kekaburan dan kelunturan itu, sering kali makna kata mengalami pergeseran dari makna awalnya.
4. Akibat adanya spesifikasi ataupun spesialisasi. Misalnya pada kata ranah, butir, semuanya mengacu pada “wilayah” dan “satuan benda”. Kedua kata tersebut ternyata telah mengalami kekhususan pemakaian sehingga ranah diberi kesejajaran makna dengan “domain”.
5. Akibat unsur kesejarahan. Unsur sejarah yang menjadi latar penyebab pergeseran, perkembangan, dan perbahan makna dalam hal ini dapat berkaitan dengan dengan pelajaran bahasa itu sendiri dari suati generasi ke generasi berikutnya, perkembangan konsep ilmu pengetahuan, kebijakan institusi, serta perkembangan ide dan objek yang dimaknai.
6. Faktor emotif. Unsur emotif yang menyebabkan pergeseran makna terutama ditandai oleh adanya asosiasi, analogi, maupun perbandingan dalam pemakaian bentuk kebahasaan. Terdapatnya asosiasi, analogi, dan perbandingan salah satunya menyebabkan kehadiran bentuk metaforis, baik secara antromorfis (penataan relasi kata yang seharusnya khusus untuk fitur manusia, tetapi dihubungkan dengan benda-benda tak bernyawa), perbandingan binatang, maupun sineastesis.
7. Tabu bahasa. Penyebab pergeseran makna dapat pula dilatari unsur tabu bahasa yang dibedakan antara tabu karena rasa hormat dan takut dengan tabu penghalus. Tabu bahasa lebih lanjut juga berhubungan dengan eufimisme.

PERGESERAN MAKNA

MACAM-MACAM PERGESERAN MAKNA


1. Generalisasi (Perluasan Makna)

Perluasan makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang mengalami berbagai penambahan makna yang keseluruhannya digunakan secara umum. Perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit ke yang lebih umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada makna lama.

Contoh: Kata 'Menarik' mempunyai makna: 'berkaitan dengan tali'. setelah melalui perluasan makna menjadi: “cantik”, “cakap”, “ganteng”, “menyenangkan”, dan “menjadikan anggota”


2. Spesifikasi (Penyempitan Makna)

Penyempitan makna adalah makna suatu kata semakin memiliki spesifikasi ataupun spesialisasi. Perubahan makna dari yang lebih umum atau luas ke yang lebih khusus atau sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna lama (semula).

Menurut pandapat Stokleir, perubahan makna (termasuk pembatasan makna) melewati tiga tahapan, yakni: (a) pengaruh konteks terhadap makna khusus;
(b) penggunaan kata baru di dalam kombinasinya yang bebas;
(c) hubungan makna sekarang dengan makna yang lebih dahulu ada.

Dalam proses perkembangan sebuah bahasa, kadang-kadang terjadi penambahan, pengurangan, bahkan kadang-kadang terjadi penghilangan sama sekali. Di bidang makna terjadi perubahan makna, baik yang menyangkut pembatasan, perluasan, kekaburan, atau berubah sama sekali. Jelas di sini peranan pemakai bahasa sangat menentukan.

Contoh: Kata Skripsi mempunyai makna 'Tulisan tangan', tetapi kini mengalami penyempitan makna yang berarti: Tulisan mahasiswa yang disusun sebagai persyaratan menempuh ujian untuk memperoleh gelar S1


3. Ameliorasi (Peninggian Makna)

Ameliorasi atau peninggian makna adalah suatu kata memiliki makna yang memiliki nilai atau konotasi lebih baik dari makna sebelumnya. Perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada makna lama.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering didapati bahwa makna kata tetap dipertahankan meskipun lambangnya diganti. Maksud pergantian lambang tersebut, yakni igin melemahkan makna, agar orang yang dikenai kegiatan tidak tersinggung. Dengan jalan melemahakan makna, kadang-kadang orang tidak akan merasa bahwa sesuatu tindakan terlalu berat.

Terjadinya peninggian makna atau penghalusan makna kata diadakan karena pertimbangan berikut:
(a) pretimbangan psikologis, maksudnya agar orang tidak tersinggung perasaanya, orang tidak merasa tertekan secara psikologis;
(b) pertimbangan secara politis, maksudnya agar masyarakat tidak sampai terganggu ketentramanya, mengganggu keamanan;
(c) pertimbangan sosiologis, maksudnya agar masyarakat tidak resah;
(d) pertimbangan religius, maksudnya orang yang dikenai kata tidak akan tertekan imannya; dan
 (e) pertimbangan kemanusiaan, manusia mempunyai hak yang disebut hak-hak asasi manusia, yang antara lain menyangkut martabat dan kehormatan pribadi, dan bahwa manusia yang satu dengan yang lain memiliki hak yang sama.

Contoh: Kata 'Pelacur' jika mengalami Ameliorasi, akan menjadi 'Kupu-kupu Malam'


4. Peyorasi (Penurunan Makna Kata)

Peyorasi atau penurunan makna kata adalah apabila suatu kata akhirnya dianggap memiliki nilai rendah atau konotasi negatif. Perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya daripada makna lama.

Setelah dilakukan analisis dari berbagai sumber, banyak yang mencantumkan contoh peyoratif yang tidak tepat. Peyorasi perubahan makna, yang tadinya halus berubah menjadi kasar. Misalnya saja pada headline sebuah berita KPK Seret Angelina Sondakh ke Pengadilan, makna kata seret dalam kalimat tersebut dirasakan kurang sopan, melakukan penangkapan secara paksa dirasa lebih halus. Tujuan peyorasi dalam headline sebuh nerita tersebut untuk menyulut emotif pembaca.


5. Sinestesia (Pertukaran Makna)

Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari indera perasa ke indera pendengar, dan sebagainya.

Contoh:

Pidatonya hambar.

Kata hambar sebenarnya yang merasakan adalah indra pengecap (lidah) dengan makna tawar atau tidak ada rasanya. Kata hambar dalam kalimat tersebut yang merasakan indra pendengar (telinga) dengan makna monoton atau kurang menggairahkan.


6. Asosiatif (Persamaan Makna)

Perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat. Pada hakikatnya asosiasi disebabkan oleh adanya perubahan pengguna dalam lingkungan masyarakat bahasa.

Misalnya saja Pemuda itu hanya menjadi benalu di rumah kakaknya (benalu diasosiasikan dengan pengganggu atau pengacau). Berbeda dengan kalimat Ayah membersihkan benalu yang menempel di pohon mangga depan rumah kami (benalu yang dimaksud adalah tanaman parasit/tanaman pengganggu) Contoh yang lain terdapat pada kata “amplop”, amplop pada dasarnya adalah bungkus surat, seiring adanya perubahan lingkungan pemakaian kata “amplop” dapat diasosiasikan dengan uang suap.


Baca juga Linguistik Murni dan Linguistik Terapan


Jika ingin mendownload file-nya dalam bentuk ppt(PowerPoint) sudah kami sediakan di halaman DOWNLOAD FILE. Demikian pembahasan mengenai Pergeseran makna Dalam bahasa. Semoga Bermanfaat.

0 Response to "Penyebab dan Macam-macam Pergeseran Makna"

Poskan Komentar