Pengertian, dan Sejarah Stilistika Dalam Sastra

rumpunnektar.com - Salam Nektarity. Kali ini kita masih membahas seputar tentang Linguistik. Yang akan kita bahas kali ini adalah Stilistika yang bisa dibilang ilmu linguistik yang memusatkan pada variasi penggunaan bahasa terutama bahasa kesusatraaan. Apa itu stilistika, Sejarah stilistika, dan juga kajiannya, akan kita bahas disini.

Stilistika Dalam Sastra

Dalam bahasa dan sastra, stilistika merupakan bagian dari ilmu sastra, lebih sempit lagi, ilmu gaya bahasa dalam kaitannya dengan aspek-aspek keindahan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gaya memiliki beberapa ciri, yaitu :
a) kekuatan, kesanggupan, gaya dalam pengertian denotatif, misalnya gaya pegasm gaya lentur, gaya tarik bumi.
b) sikap, gerakan, seperti dalam tingkah laku, misalnya gaya tarik, gaya hidup.
c) irama, lagu, seperti dalam music, misalnya gaya musik Barat.
d) cara melakukan, seperti dalam olahraga, gaya renang, gaya dada.
e) ragam, cara, seperti dalam bangunan, seperti bagunan gaya Eropa.
f) cara yang khas, seperti pemakaian bahasa dalam karya sastra, misalnya gaya inversi.

Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra, ciri-ciri yang membedakan atau mempertentangkannya dengan wacana nonsastra, meneliti deviasi terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Singkatnya, stilistika meneliti fungsi puitik suatu bahasa

Pengertian Stilistika

Pengertian Stilistika

Stilistika adalah bagian linguistik yang menitikberatkan kepada variasi penggunaan bahasa dan kadangkala memberikan perhatian kepada penggunaan bahasa yang kompleks dalam karya sastra. Pengertian dari Stilistika, akan kita kutip dari beberapa pendapat, diantaranya :

Secara harfiyah, stlistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang berarti studi mengenai style ‘gaya bahasa’ atau ‘bahasa bergaya’.

(Abrams, 1979: 165-167) menyatakan secara istilah, stilistika (stilistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra.

Ratna (2007: 236) menyatakan, stilistika merupakan ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan mempertimbangakan aspek-aspek keindahannya. Bagi Simpson (2004: 2), stilistika adalah sebuah metode interpretasi tekstual karya sastra yang dipandang memiliki keunggulan dalam pemberdayaan bahasa.

Leech dan Short (1984: 13) menyatakan bahwa stilistika adalah studi tentang wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra.

Chapman (1977: 15), stilistika juga bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dalam hal apa bahasa yang digunakan dalam sastra memperlihatkan penyimpangan, dan bagaimana pengarang menggunakan tanda-tanda linguistik untuk mencapai efek khusus.

Junus(1989: xvii), menyatakan hakikat stilistika adalah studi mengenai pemakaian bahasa dalam karya sastra.

Kridalaksana (1988: 157), menyatakan stilistika (stilistics) adalah:
  • ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan.
  • penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa.

Menurut Shipley, stilistika adalah ilmu tentang gaya (style), sedangkan style berasal dari kata stilus (latin) yang semula berarti alat berujung runcing yang digunakan untuk menulis di atas bidang berlapis lilin. Bagi mereka yang dapat menggunakan alat tersebut secara baik, disebut sebagai praktisi gaya bahasa yang sukses, sebaliknya, bagi mereka yang tidak dapat menggunakan dengan baik, disebut praktisi gaya yang kasar atau gagal. Benda runcing sebagai alat untuk menulis dapat diartikan bermacam-macam. Salah satu diantaranya adalah menggores, melukai, menembus, menusuk bidang datar sebagai alat tulisan. Konotasi lain adalah ”menggores” atau ”menusuk” perasaan pembaca, bahkan juga penulis sendiri sehingga menimbulkan efek tertentu. Pada dasarnya, di sinilah makna kata stilistika sehingga kemudian berarti gaya bahasa yang sekaligus berfungsi sebagai penggunaan bahasa yang khas.

Stilistika mengkaji berbagai fenomena kebahasaan dengan menjelaskan berbagai keunikan dan kekhasan pemakaian bahasa dalam karya sastra berdasarkan maksud pengarang dan kesan pembaca. Dengan kata lain, stilistika merupakan studi tentang pemanfaatan bentuk dan satuan kebahasaan dalam karya sastra sebagai media ekspresi sastrawan guna menciptakan efek makkna tertentu dalam rangka mencapai efek estetika.

Sudjiman (1993: 3) menyebut bahwa sesungguhnya sumbangan linguistik dalam kritik sastra ialah, misalnya, sorotan pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa sebagai unsur yang membangun karya sastra, pengunaan dialek dan register tertentu. Pengetahuan linguistik, khususnya fonologi dan fonemik, sangat bermanfaat dalam pengkajian puisi, yaitu dalam pautannya dengan metrik, penyusunan struktur segmen bunyi dalam hubungannya dengan unit-unit bunyi pada bahasa tertentu, atau derap dengan irama. Adapun pengetahuan linguistik yang termasuk di dalamnya fonologi, dan fonemik, dan juga syntax, lexico-semantic, adalah merupakan point utama dalam analisis stilistika sastra pada awal kemunculannya.

Baca Juga Sejarah Psikolinguistik

Sejarah Stilistika


Stilistika telah mulai dikenal pada masyarakat di Barat dan Indonesia. Sejak zaman Plato (427-317 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), sesungguhnya telah ada kajian linguistik tentang proses proaktif dalam kesusastraan. Zaman Plato dan Aristoteles mungkin terlalu jauh dari zaman kita. Pada 1916 telah terbit sebuah kata hasil kerjasama sastrawan dan bahasa berakhiran Formalisme Rusia dengan buku yang berjudul, The Study in Theory of Puitics Language. Pada tahun 1923, Roman Jakobsan menulis tentang puisi Ceko yang menerapkan kriteria semantik modern dalam pengkajian struktur dan pola puisi. Pada 1957, Chomsky membuka pandangan baru dalam linguistik dalam penerbitan bukunya Syntactic Structures. Kesusastraan merasakan dampak pandangan baru itu.

Pada awalnya, sastrawan dan kritikus sastra memfungsikan manfaat pengkajian linguistik terhadap karya sastra. Berbagai anggapan pengkajian demikian akan merusak keindahan seni karya sastra itu. Semakin lama semakin disadari bahwa pendekatan linguistik merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk menemukan makna karya sastra. Analisis stilistika berupaya mengganti subjektif dan impresionisme yang digunakan kritikus sastra sebagai pedoman dalam mengkaji karya sastra dengan suatu pengkajian yang relatif lebih obyektif dan ilmiah.

Pada 1973, terbit Stylistics, G.Tunner Harmsondworth, Penguin Books. Pada 1980, terbit buku Linguistics: for Students of Literatur A Stylistics Introduction of the study of Literatur Pergamo Fustitut of English, Oxford of Michael Cumming dan Robert Simon pada 1985, terbit Stylistics and Teaching of Literature. Di Malaysia, stilistika juga mengalami perkembangan. Pada 1966, Yunus telah banyak menulis makalah stilistika. Ia termasuk pakar stilistika, di samping Mohammad Yusuf Hasan dan Shahran Ahmad, makalah Yunus telah dibukukan dengan judul Dari Kata ke Ideologi: Fajar Bakti, Petalung Jaya 1985. Pada 1979, Mangantar Simanjuntak juga mulai membahas stilistika. Makalahnya berjudul Aplikasi Linguistik dalam Pengkajian dan Penulisan Karya Sastra. Ia menganalis teks sastra berdasarkan teori linguistik Transformatif Generatif. Pada saat yang sama Mana Si Kana (Keris Emas), menulis makalah Kaktus-Kaktus Kemasan Safe Pengandaan Stilistika.

Pada 1980, persatuan Linguistik Malaysia mengadakan seminar bahasa dan sastra. Pada 1982, makalahnya dibukukan dengan judul Stilistika Simposium Keindahan Bahasa yang disunting oleh Prof. Farid Onn. Penyumbang makalah adalah Prof. Farid Onn, Dr. Nik Safiah Karim, Awang Sariyah, Dr Mangantar Simanjuntak, Dr. Dahnil Adnani, Abdul Rahman Napiah, Hashim Awang, Prof. Kamal Hasan, dan Lutfi Abas. Pada 1985, jurusan Linguistik, jabatan pengkajian Melayu, Universiti Melayu telah mengadakan satu langkah yang dinamakan Bengkel Stilistik. Dalam bengkel ini, beberapa makalah membahas aspek stilistika atau gaya bahasa. Makalah-makalah telah diterbitkan dengan judul Stilistik: Pendekatan dan Penerapan. Pada 1989, Yunus menerbitkan bukunya berjudul Stilistik: Satu Pengantar yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementrian, Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. Di dalamnya dibahas tentang: (1) Berbagai pemahaman tentang gaya; (2) Gaya sebagai Mekanisme Stilistik dan sebagai tanda. Buku ini merupakan hasil pergelutan selama 30 tahun semenjak ia berkenalan dengan istilah stilistik. Sejak itu, ia selalu berdialog dengan persoalan stilistika.

Di Indonesia, stilistika juga mengalami sejarah dan perkembangan. Pada tahun 1956, Slamet Mulyana menerbitkan buku Peristiwa Bahasa dan Peristiwa Budaya, penerbit Ganaco, Bandung. Buku ini berisi sekalar pemandangan tentang Poesi juga biasa disebut Puitika. Pandangan Puitika tidak terlepas dari persoalan poetika pada hakikatnya adalah persoalan filsafat. Dengan demikian, peristiwa sastra dihubungkan dengan peristiwa Bahasa Indonesia. Hal ini ada hubungannya dengan pengajaran bahasa. Kekurangan penyelidikan bahasa dan sastra Indonesia terasa sekali oleh pengajar di sekolah, yaitu sifat pembelajaran tidak lagi merupakan perluasan, tetapi pendalaman. Bahasa Indonesia merupakan salah satu fenomena yang berhubungan adat dengan manusia Indonesia. Slamat Mulyana mendefinisikan stilistika adalah pengetahuan tentang kata yang berjiwa.

Istilah stilistika kemudian dikembangkan oleh Jassin. Ia menguraikan bahwa ilmu bahasa yang menyelidiki gaya bahasa disebut stilistika atau ilmu gaya biasa orang menyebut gaya bahasa apa yang disebut Stijl dalam bahasa Belanda, Style dalam bahasa Ingggris dan Perancis, Stil dalam bahasa Jerman. Jassin selanjutnya mengemukakan bahwa kata gaya bahasa bermakna cara menggunakan bahasa. Di dalamnya tercakup gaya bercerita. Biasanya orang jika berbicara tentang stil seseorang pengarang yang dimaksud bukan saja gayanya dalam mempergunakan bahasa, melainkan juga gayanya bercerita. Seorang stilistikus atau ahli gaya bahasa menjawab pertanyaan mengapa seorang pembicara atau pengarang menyatakan pikiran dan perasaan seperti yang dilakukan dan tidak dalam bentuk lain, atau bagaimana keharmonisan gabungan isi dan bentuk.
Pada 1982, Sudjiman membuat Diktat Mata Kuliah Stilistika, Program S1. Universitas Indonesia. Kemudian Ia menerbitkan buku Bunga Rampai Stilistika. Grafiti, Jakarta 1993. Istilah stilistika sejak 1980-an ini mulai dikenal di dunia Pengetahuan Tinggi sebab telah menjadi satu disiplin ilmu. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan selama ini bahwa dalam usaha memahami karya sastra para kritikus sastra menggunakan pendekatan intrinsik dan ekstrisik, bahkan ada yang menggunakan beberapa pendekatan sekaligus. Semua itu ada hukum untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang alasan pengarang menciptakan karya tertulis, gagasan yang hendak disampaikan ataupun hal-hal yang mempengaruhi cara penyampaiannya semua itu dilakukan untuk merebut makna yang terkandung dalam karya sastra serta menikmati keindahannya. Karena medium yang digunakan oleh pengarang adalah bahasa, pengantar bahasa pasti akan mengungkapkan hal-hal yang membantu kita menafsirkan makna suatu karya sastra atau bagian-bagiannya untuk selanjutnya memahami dan menikmatinya. Pengkajian ini disebut pengkajian stilistika. Dalam pengkajian ini tampak relevansi linguistik atau ilmu bahasa terhadap studi sastra. Dengan stilistika, dapat dijelaskan interaksi yang rumit antara bentuk dan makna yang sering luput dari perhatian dan pengamatan para kritikus sastra.

Pada tahun 1986, Natawidjaja menerbitkan buku Apresiasi Stilistika, Intermasa, Yogyakarta. Dalam buku ini diuraikan penggunaan bahasa suatu karya sastra melalui aspek bahasa, misalnya peribahasa, ungkapan, dan gaya bahasa dalam karya sastra. Buku ini sangat bermanfaat bagi siswa SMA dan mahasiswa yang ingin meningkatkan pemahaman mengenai stilistika bahasa Indonesia. Di Universitas Gadjah Mada, penelitian skripsi sarjana juga membahas masalah stilistika. Hal ini sudah dilaksanakan sejak 1958 sampai dengan sekarang ini, misalnya Budi S telah membuat skripsi tentang ”Bahasa Danarto dalam Godlob: Kajian Stilistika Cerpen-cerpen Danarto”, 1990. Ia memberi penekanan analisis terhadap kosakata, majas (bahasa kiasan), sarana retorika, struktur sintesis, interaksi bahasa dan humor dari mantra (Puleh, 1994:X). Pada 1993, Lukman Hakim membahas stilistika judul makalahnya ”Tinjauan Stilistika terhadap Robohnya Surau Kami”, (AA. Navis). Ia membahas cerita pendek ini dari sisi gaya bahasa/stil, pengarangnya terutama yang berhubungan dengan (1) struktur kalimat yang dihubungkan dengan gaya bercerita; dan (2) pemilihan leksikal yang dikaitkan dengan pemakaian majas (Depdikbud, 1993:28-38, Bahasa dan Sastra, X.4).

Pada 1995, Aminuddin menerbitkan bukunya Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra, IKIP Semarang Press, Semarang. Kajian stilistika dalam buku ini terdiri dari enam bab. Bab 1 mengenai Pengertian Gaya dalam Perspektif Kesejarahan; Bab 2 mengenai Studi Stilistika dalam Konteks Kajian Sastra; Bab 3 Bentuk Ekspresi sebagai Pangkal Kajian Stilistika; Bab 4 Aspek Bunyi dalam Teks Sastra; Bab 5 Bentuk Simbolik dalam Karya Sastra; dan Bab 6 Bentuk Bahasa Kias dalam Karya Sastra. Pada 2003, Tirto Suwondo membahas cerpen dengan pandangan stilistika, judul makalahnya ”Cerpen Dinding Waktu, karya Danarto, Studi Stilistika” dimuat dalam bukunya Studi Sastra Beberapa Alternatif, Hanindita, Yogyakarta, 2003. Suwondo berkesimpulan bahwa cerpen dinding waktu karya Danarto kaya akan gaya bahasa, baik gaya bahasa berdasarkan struktur kata dan kalimat maupun berdasarkan langsung atau tidaknya makna. Dengan demikian, hingga saat sekarang ini, stilistika sudah berkembang dengan pesat.


Baca Juga Linguistik Murni dan Linguistik Terapan

Objek Kajian Stilistika


Stilistika merupakan ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa-bahasa yang bergaya dalam karya satra. Dalam hal mengkaji bahasa-bahasa yang bergaya tersebut, terdapat berbagai aspek yang dapat dikaji oleh stilistika, mulai dari intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat.

Ranah penelitian stilistika biasanya dibatasi pada teks tertentu. Pengkajian stilistika adalah meneliti gaya sebuah teks sastra secara rinci dengan sistematis memperhatikan preferensi penggunaan kata, struktur bahasa, mengamati antarhubungan pilihan kata untuk mengidentifikasikan ciri-ciri stilistika (stilistic features) yang membedakan pengarang (sastrawan) karya, tradisi, atau periode lainnya. Ciri ini dapat bersifat fonologi (pola bunyi bahasa, mantra dan rima), sintaksis (tipe struktur kalimat), leksikal (diksi, frekuensi penggunaan kelas kata tertentu) atau retoris (majas dan citraan). Apresiasi stilistika merupakan usaha memahami, menghayati, dan mengaplikasi gaya agar melahirkan efek artistik. Efek-efek tersebut akan tampak pada ekspresi individual pengarang. Adapun objek kajian stilistika yaitu peribahasa, ungkapan, aspek kalimat, gaya bahasa, plastik bahasa, dan kalimat asosiatif (Natawidjaya, 1986:5).

Lihat juga Sosiologi Sastra

Stilistika dalam sejarahnya mulai bersumber semenjak zaman Yunani kuno yang dikenal dengan tiga konsep utama nilai bahasa sastra yaitu Rhetoric, Poetics, dan Dialectics dengan salah satu karya yang dijadikan gambaran mencolok dari salah satu di antara ketiga unsur ini adalah karya Aristoteles (384 – 322 S.M) yang berjudul Poetics. Tiga unsur bahasa dalam karya sastra itu lah yang kemudian menjadi awal kelahiran kritik sastra. Sekitar 300 tahun kemudian di Roma dua style yang berbeda dikemukakan oleh Caesar dan Cicero sebagai perkembangan awal stilistika.

Stilistika berkembang pada zaman pertengahan dengan dua konsep utama yang dikenal dengan Form (bentuk) dan Content (Isi) dan terus berlanjut pada zaman selanjutnya dengan aneka perubahan seperti pada masa Romanticism, style dilekatkan pada bentuk bahasa tertulis, tidak pada bahasa lisan dan saat itu populer disebut stylos. Stilistika terus berkembang pada abad-abad selanjutnya dengan aneka konsep baru yang dipengaruhi dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Ferdinand de Saussure, Charles Bally, hingga Jakobson. Akan tetapi konsep stilistika ini masih terpaku pada bahasa tertulis dan kaidah bahasa.

Baca Juga Teori Psikoanalisis

Demikian penjelasan mengenai Stilistika dan Sejarahnya, semoga memberikan pencerahan bagi anda. Salam.



Daftar Pustaka :
  • Imron, Ali. 2009 . Stilistika, Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Solo: Cakra Books.
  • Ogunsiji, Ayo. 2012. Literary Stylistics. National Open Unversity of Nigeria. Victoria Island. 15
  • Pradopo, Rachmat Joko, 1996. Diktat Stilistika.
  • Missikova, Gabriela. 2003. Linguistic Stylistic. Nitra. Filozofická Fakulta Univerzita Konštantína Filozofa. 
  • Simpson, Paul. 2004. Stylistics, A Resource Book for Students. London. Routledge.
  • Saito, Yosliifuini. I997. Style and creativity: Towards a theory of creative stylistics. Nottingham. University of Nottingham.
  • Nitra. Filozofická Fakulta Univerzita Konštantína Filozofa. 25-26.
  • Ogunsiji, Ayo. 2012. Literary Stylistics. National Open Unversity of Nigeria. Victoria Island. 14
  • Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta Pusat: Dunia Pustaka Jaya.
  • Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika.  PT Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.
  • Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
  • Atmazaki. 2005. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Citra Budaya Indonesia.
  • Junus, Umar. 1989. Stilistik: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
  • Natawidjaja, P. Suparman. 1986. Apresiasi Stilistika. Jakarta: Intermasa.
  • Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Semi, M. Atar. 2008. Stilistika Sastra. Padang: UNP Press.
.

0 Response to "Pengertian, dan Sejarah Stilistika Dalam Sastra"

Poskan Komentar