Sejarah Sastra Arab

Kesusastran Arab pada zaman jahiliah terpusat di Arabia Utara. Kemudian, lebih khusus lagi di Madinah, Mekah, Taif dan Nejd. Setelah berdirinya Bani Umayah, kesusasteraan Arab berpindah ke Syiria, Irak dan daerah yang dikuasai Islam pada pertengahan pertama abad 8 H. pada Zaman Bani Abasiah, selain terpusat di Baghdad, sebagai pusat pemerintahan, juga kesusasteraan berkembang di Andalusia, seperti yang terdapat dalam Dar al-Masyriq.
 
Dengan runtuhnya Bani Abbasiah tahun 1258, akibat diserang oleh Hulagu (Mongol), kesusasteraan Arab mengalami kemunduran (ashr al-Inhitat, The age of Depresion). Keadaan seperti ini, berlangsung sampai tahun 1516/1517 hinggaTurki Otonam mulai memperluas kekuasaan ke hampir semua negara Arab. Akan tetapi, pada masa ini pun tak jelas pusat pemerintahnnya. Barulah setelah Napoleon Bonaparte mendarat di Mesir, yaitu tahun 1798, bangsa Arab mulai mengalami kebangkitan, khususnya dalam bidang kesastraan.

Sejarah Sastra Arab

Sejarah Sastra Arab


Pada limapuluh tahun pertama abad ke 19, kesusastraan, selain bangkit di Mesir, juga di Syiria-Libanon dan Irak. Ketiga negara tersebut mendominasi perkembangan kesusastraan Arab sampai akhir abad 19 dan awal abad 20, dengan genre sastra yang lebih bervariatif. Pada sekitar tahun 1920-1970-an, kesusastraan Arab mulai berkembang di negara-negara lainnya seperti Palestina, Yordania, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Maroko bahkan sampai ke Amerika.


Zaman Jahiliah

Periode ini dimulai dari satu setengah abad sebelum islam sampai munculnya islam. Pada masa ini, puisi memiliki kedudukan tinggi dan berpengaruh, sehingga setiap suku akan merasa bangga jika lahir seorang penyair dalam sukunya. Puisi-puisi Arab lahir d Nejd, Hejaz, dan Bahrain. Puisi-puisi Arab yang paling terkenal pada zaman Jahiliah adalah puisi al-Mualla’qat, yaitu puisi-puisi yang digantungkan di dinding Ka’bah. Puisi Al-Muallaqat berbentuk qasidah panjang.
Adapun tema-tema kesastraan pada Zaman ini adalah:

        Al- Hamasah, tema yang mengagungkan-ngagungkan kepahlawanan dan keberanian seseorang yang ikut dalam peperangan. Di antara penyair Zaman ini yang kuat tema hamasah-nya adalah Amru bin Kultsum dan al-Absiy.


        Al- Fakhr, tema yang membangga-banggakan kelebihan yang dimiliki oleh penyair atau sukunya. Diantara penyair yang menulis tentang tema ini adalah Rabi’ah bin Maqrum.

        Al-Madah, yaitu tema puisi yang berisi puji-pujian kepada seseorang, terutama mengenai sifat-sifat baiknya. Seperti puisinya Zuhayr bin Abi Sulma.

        Ar-Ritsa, yaitu tema puisi yang mengungkapkan rasa putus asa, kesedihan dan kepedihan seseorang. Diantara puisi ritsa yang paling bagus adalah puisi Duraid bin al-Shamat.

        Al-Hija, yaitu tema puisi yang berisi tentang kebencian, kemarahan, atau ketidaksukaan penyair terhadap seseorang atau suku tertentu. Biasanya celaan dan cercaan itu mengandung unsur yang lucu, seperti satire.

        Al-Wasfu, tema puisi yang mendeskripsikan tentang keadaan alam yang ada di sekitar penyair. Seperti puisi-puisi karyanya Imru al-Qays dan Abu Daud al-Iyadiy.

        Al-Ghajal, yaitu tema puisi yang membicarakan tentang wanita, seperti puisinya al-Asyaa dan Imru al-Qais.

        Al-I’tidzar, yaitu tema puisi yang menyatakan permintaan maaf, seperti puisinya Naghibah adz-Dzibyani.

Sedangkan genre prosa (natsr) yang populer pada Zaman Jahiliah adalah Khutbah (pidato), washiyat, hikmah (kata-kata hikmah), matsal (peribahasa), qishah (cerita), dan saj’u kuhhan (mantra para dukun).


Zaman Permulaan Islam

Periode ini dimulai dari datangnya islam sampai berakhirnya masa khalafaur rasyidin. Pada masa ini hanya dua jenis prosa yang populer, yaitu khutbah dan kitabat rasail. Perkembangan Khutbah pada zaman ini sama seperti puisi pada Zaman Jahiliah, menduduki posisi paling tinggi. Karena khutbah pada saat itu sangat penting untuk melakukan dakwah islam dan jihad. Sementara itu, rasaail (korespondensi) –yang pada zaman Jahiliyyah sedikit, setelah datangnya Islam, mulai semakin meningkat kedudukannya. Yang di tulis dalam korespondensi itu antara lain tentang dakwah Islam, aturan-aturan hukum dan politik, perjanjian perdamaian, dan pesan-pesan untuk penguasa.

Tema puisi yang muncul pada zaman permulaan islam adalah tema dakwah islam. Sementara itu, tema-tema puisi Zaman Jahiliyyah seperti al-washf, al-ghazal, Ritsa, al-madah, dan al-hija masih ditulis namun lebih syar’i. Diantara penyair-penyair Zaman ini adalah Hassan bin Tsabit, Kaab bin Zuhayr, dan Hutai’ah.


Zaman Bani Umayah

Periode ini dimulai dari berdirinya Bani Umayah hingga akhir kedaulatannya Bani Umayah. Pada Zaman ini, tema-tema puisi pada zaman sebelumnya masih berkembang. Tapi ada juga yang mengalami perubahan seperti tema Al-Ghazal. Pada zaman ini, tema ghazal terbagi dua: Pertama, ghazal ‘udzri, yaitu ghazal yang menggambarkan perasaan seseorang terhadap kekasihnya. Seperti puisi-puisinya Kutsair bin Abdul Rahman al-Khazaniy, Jamil bin Abdullah bin Mu’Ammar al-Udzri, Qays bin al-Mulawwih bin Mazahimi al-‘Amiriy – yang terkenal dengan Layla wa Majnun. Kedua, ghazal maksuf, yaitu ghazal yang menggambarkan tubuh wanita serta keindahan-keindahannya. Seperti puisinya Abdullah bin Abi Rabiah al-Makhzumi, Abdullah bin Umar bin Amru bin Affan . selain itu, muncul pula tema-tema baru. Diantaranya:

        Al-Siyassat, yaitu tema yang memuji-muji atau mencela penguasa atau partai politik lain. Tema ini dijadikan sebagai sarana komunikasi di antara para partai politik.

        An-Naqa’’idh, yaitu tema yang mengorbankan permusuhan di antara para penyair. Aspek yang dipolemikkan biasanya tentang politik atau tentang kehidupan mewah para khalifah dan pemimpin. Para penyair yang terkenal dalam tema ini adalah Ghayyat bin Ghauts at-Taghlibiy ( Akhtal), Jarrir bin Athayyah at-Tamimiy, dan Hamman bin Ghalib bin Sha’sha’ah al-Tamimi (Parazdaq).

        Syi’ru al-futuuh wa ad-da’wat al-Islaam, tema puisi yang menggambarkan bagaimana Islam memperluas daerahnya, tentang keimanan para tentara muslim, atau tentang jihad.

Sedangkan genre sastra dalam bentuk prosa kitabat pada zaman Bani Umayah dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Rasail diwaniyyat, yaitu surat-surat dari pemerintah pusat yang disampaikan pada penguasa atau pimpinan daerah. Ciri-ciri genre ini biasanya dimuali dengan basmallah dan shalawat,, cenderung panjang dan rinci serta dipengaruhi oleh kebudayaan Persia. Ada dua orang yang terkenal dalam genre ini yaitu Salim Mawla Hisyam bin Abdul Malik dudn Abdul Hamid al-Katib.
2. Rasail ikhwaniyat, yaitu surat-surat yang berisi ucapan suka cita, duka cita, teguran atau pengarahan yang ditulis oleh penulis kepada penulis lainnya.
3. Tawqiat, yaitu kata-kata ringkas berupa pendapat yang ditulis oleh khalifah atau penguasa atas permintaan rakyatnya untuk menjelaskan masalah.


Zaman Bani Abasiah

Para penyair zaman ini terkenal dengan keindahan makna. Banyaknya ilmu dari Yunani, India, dan sastra dari Persia yang diterjemahkan oleh orang-orang Abassiayyah, mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kesastraan. Tema-tema puisi pada zaman ini sama dengan pada zaman sebelumnya, tapi ada juga tema yang baru seperti zuhdiyat, khamriyat, thardiyat, kisah-kisah beradab, deskripsi tentang makanan dan lain-lain.
Tema Fakhr yang pada Zaman Jahiliyyah dipergunakan untuk membanggakan suku, pada zaman ini fakhr digunakan oleh penyair untuk memanggakan diri, kehidupan dan perasaan sendiri. Dari situ muncullah tema zuhdiyyat, seperti yang ditulis oleh Abu al-Atahiyah dan puisi tasauf Ibn Faridh. Selain itu, ada juga puisi yang berisikan filsapat yang sering di sebut syi’rufal-istiqrariy seperti puisinya Abu Tamam, Al-Mutanabbi, dan Abu A’la al-Ma’ary. Muncul juga betuk puisi yang disebut Syi’ru al-tajdidiy (puisi pembaruan), dengan tokohnya diantaranya Abu Nawas dan Abu al-Atahiyah.

Jenis prosa pada zaman ini beraneka ragam. Selain ada pidato dan kitabat (korespondensi), juga ada tawqi’at, al-Adab al-qishashi (sastra naratif, seperti cerita 1001 malam) dan maqamat (cerita pendek bersajak yang berisi kata-kata nasehat, kata-kata jenaka atau cerita-cerita ganjil) -yang sebenarnya sudah ada pada zaman sebelumnya namun kurang digemari, ada juga istilah lain dalam prosa yang disebut dengan an-natsru al-tajdidiy (prosa pembaruan) dengan tokohnya diantaranya Abdullah Ibn Muqaffa, natsru al-fanniyu (prosa lirik), dengan tokohnya diantaranya Abu Utsman Amru bin Bahrin al-Kinaani (al-Jahiz).


Zaman Kemunduran

Zaman ini dibagi dua priode, yaitu priode pemerintahan mamluk dan periode pemerintahan turki otoman. Para ahli sejarah sastra arab mengatakan bahwa pada periode mamluk, kesusastraan arab telah kehilangan vitalitasnya, terlebih lagi pada periode turki otoman berkuasa, kesusastraan arab mengalami kemandegan dan kehancuran secara total. Kesusastraan tidak hanya mundur dari segi kualitasnya tapi juga kuantitasnya. Pada zaman ini kesusastraan bersifat artifisial dan imitatif, dan kurang orsinil. Prosanya banyak berima, bertemakan pujian-pujian, bergaya retoris, unsur sentimentalnya berlebihan dan kadang-kadang puisinya berbentuk akrostikon.
Penyair-penyair terkenal zaman ini adalah al-Bushiri, al-Dimishqi, Abu—al-Fida, Ibn Majd dari Nejd.


Zaman Kebangkitan

Salah satu figur yang penting dalam kebangkitan kesusastraan Arab ini adalah Rifa’at Tahtawi (1801-1873), salah seorang dari 44 orang yang dikirim Mohammad Ali ke Prancis. Ia juga merupakan seorang redaksi dari surat kabar al-Waqa’I al-Misriyyah. Dengan terjemahannya dari bahasa Perancis, Telemaque, karya Fenelon, dia dianggap sebagai salah seorang perintis novel dalam bahasa Arab. Novel berbahasa Arab pertama kali muncul di Syiria. Ditulis oleh Antun al-Saqqal (1824-1885), dengan judul al-ashum al-nariyah (panah api).

Perkembangan novel pada zaman ini dibagi menjadi tiga tahap: Pertama, Novel yang masih dipengaruhi oleh al-maqamat, seperti novel Hadits Isa bin Hisyam karya Muhammad al-Muwalhi (1858-1930). Kedua, novel terjemahan yang sudah meninggalkan ciri maqamatnya, seperti novelnya Rifaat-Tahtawi, yang menerjemahkan novel Telemaque. Ketiga, novel asli yang ditulis oleh para novelis Arab, seperti Zainab, karya Muhammad Husain Haikal.

Seperti halnya novel, cerpen-cerpen pertama dalam kesusastraan Arab juga berupa terjemahan atau saduran dari kesusastraan Eropa. Pelopor cerpen pada masa ini adalah salim Butrus al-Bustani. Cerpenis-cerpenis lain selain Butrus adalah Jurji Jabrail Balit, Mustafa Luthfi al-Manfaluth (1876-1924) Jibran Khalil Jibran yang terkenal dengan kumpulan cerpennya al-arwah al-mutamarridah (jiwa-jiwa pemberontak).
Selain novel dan cerpen, terdapat juga drama yang muncul dalam kesusastraan Arab yang dipelopori oleh Marun Naqqas, lahir di Libanon tahun 1817. Ia menulis drama musikal pertama yang berjudul Abu Hassan Si Tolol.

Pada masa kebangkitan dan masa Modern, perkembangan puisi dapat dibedakan menjadi tiga aliran:

    Aliran al-muhafidzun, yaitu aliran yang masih memelihara kaidah puisi Arab secara kuat, misalnya keharusan menggunakan wazan dan qafiah, jumlah katanya yang banyak, tema-temanya masih mengikuti tema masa sebelumnya. Para penyair yang temasuk aliran ini adalah Mahmud Sami al-Barudi (183-1904), Ahmad Syawqi, Hafidz Ibrahim, dan Ma’ruf ar-Rusyadi.

    Aliran al-mujaddidun, yaitu aliran yang muncul karena adanya perubahan situasi politik, sosial dan pemikiran., adanya pengaruh aliran romantik dari penyair Barat. Termasuk dalam kategori ini adalah Khalil Matran, Abbas al-Aqqad.

    Aliran al-mughaaliinu, yaitu aliran yang mengikuti aliran sastra yang ada di Eropa setelah perang dunia ke satu. Ciri –ciri dari aliran ini adalah tidak Vokal, tapi menggunakan cara yang pelan-pelan.


Zaman Modern

Terjadinya pembaruan di bidang prosa pada masa ini disebabkan oleh munculnya para reformis dan pemikir, seperti Muhammad bin Abdul Wahab (!703-1792) di Saudi Arabia, Jamaluddin al-Afgani (1838-1897) dan Muhammad Abduh (1839-1905) di Mesir, serta Kawakibi (1849-1902) di Syiria, munculnya sarana-sarana kebudayan, terutama penerbitan dan persuratkabaran. Ciri prosa masa ini adalah lebih memperhatikan unsur pemikiran dari pada unsur gayanya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti saja’, tibaq, seperti pada masa-masa sebelumnya.

Pada masa ini, qasidah (ode) yang monoritme masih terus ditulis, tetapi lebih sedikit dibandingkan masa-masa sebelumnya. Puisi bebas menjadi lebih populer, dengan panjang yang lebih bervariasi dan rima yang tidak mengalami pola tertentu. Larik-lariknya pun semakin lebih pendek. Dari segi temanya, penyair masa ini ada yang masih menggunakan teme-tema puisi lama, seperti wasf, fakhr, madah, naqa’id, ritsa, dan ghazal. Selain itu juga ada yang memunculkan tema-tema baru, seperti patriotik, kemasyarakatan, kejiwaan, dan puisi drama (drama puisi yang dibuat secara puitis).

Sastrawan yang terkenal pada masa ini adalah Taha Husein. Ia dikenal sebagai tokoh modernis pada tahun 1920-an sehingga pada tahun 1930-an ia dijuluki “Bapak Kesusastraan Arab” dengan disertasinya tentang penyair buta. Tawfik Hakim juga diangap sebagai penulis Arab terbesar pada masa ini. Ia seorang novelis, cerpenis dan penulis esai yang sukses. Kontribusinya yang paling terkenal adalah dalam bidang drama. Selain itu, Mahmud Taymur yang terkenal dengan al-Hajj Shalabi, sebuah kumpulan cerpen dikenal sebagai cerpenis ternama kekinian.

*) Diambil dari berbagai sumber yang disusun seperlunya. Sumber diantaranya:
- Sutiasumarga, M. 2001. Kesusastraan Arab Asal Mula dan Perkembangannya. Jakarta: Zikrul Hakim.
- Rachmat Djoko Pradopo dkk. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. PT Hanindita Graha Widya: Yogyakarta.

Baca Juga Sejarah Sastra Perancis Abad ke-18

 Demikian artikel mengenai SEJARAH SASTRA ARAB. Semoga Bemanfaat, dan jika ada kekurangan ataupun kesalahan mohon koreksinya :)

0 Response to "Sejarah Sastra Arab"

Poskan Komentar