Sebuah Persembahan di Hari Ayah Nasional

Menjelang Hari Ayah Nasional 12 November nanti, kami Komunitas Penulis Fiksi RUMPUN NEKTAR mencoba mempersembahkan definisi seorang ayah, bukan dalam bentuk Puisi Untuk Ayah atau Cerpen tentang Ayah, namun hanya sekedar Defisini tentang Ayah secara pribadi dari masing-masing kacamata kami pada ayah kami masing-masing.

Tulisan tentang Ayah ini kami buat untuk kami persembahkan pada sosok Ayah yang menjadi penopang dan pemikul tanggung jawab keluarga, yang membimbing kami sehingga kami bisa seperti sekarang ini. Mengajarkan putih dan hitam, mengajarkan mewarnai hari, dan...... pokoknya banyak deh nanti bisa dibaca definisi dari kami masing-masing di bawah ini.

Berikut ini beberapa tulisan tentang ayah, bagaimana kami menggambarkan seorang ayah kami dari masing-masing ayah kami.

Tulisan Tentang Ayah


Tri C Fakhri - Semarang
Ayahku adalah pembohong! bagaimana mungkin ia sering bohong kepadaku. ketika aku meminta kiriman uang saku, ia bilang ada, padahal listrik belum bayar. ketika aku ingin makan dan nasi tinggal satu porsi, ia bilang makanlah, padahal ia sendiri sedari pagi belum makan. Ayahku pembohong! namun aku cinta ayahku.

Nurul Rina Budiarti Nurul - Sidoarjo
Ayahku adalah Sainganku. Selalu terjadi perbedaan pendapat antara kami dalam diskusi keluarga. Pendapatku tak mau kalah dengan pendapat beliau. Yang paling menyenangkan adalah beliau rela mengalah demi pendapatku.

Dhilayaumil - Makassar
Ayahku adalah ... orang yang terlalu banyak berkata-kata dalam diamnya. Keluh kesahnya hanya dia dan Tuhannya yang tahu. Kebahagiaannya ada pada istri dan anak-anaknya

Unus Prajakaparta - Batang 
Ayah adalah puisi yang telah jadi. Kala semangat saya pudar dan saya merasa kehilangan arah dalam perjalanan panjang ini, saya akan membaca kembali lembar-lembar perjuangannya. Ayah saya mencintaimu.

Anthie - Samarinda
Ayahku adalah salah satu keajaiban Tuhan yang diciptakan untukku.

Khansa A. Salsabila - Mojokerto
Ayahku adalah kenangan. Tampak hebat dalam kenangan, terasa hangat dalam kenangan, gagah dalam kenangan, sedih dalam kenangan, dingin dalam kenangan. Sulit terjabarkan, dan baru terasa ada dalam kenangan. Ayahku adalah kenangan, dan beliau hidup dalam kenangan.

Nashrullah - Bondowoso
"Ayahku adalah sesosok manusia yang selalu bisa membuatku berkata ayah.."

Septiani Ananda Putri - Semarang
Ayah adalah laki-laki yang PELUHnya merajut benang pakaianku, menaungi dalam kenyamanan istana sederhana, menghapus lapar-dahagaku, membayar harga pendidikanku, menjelma komputer sahabatku dalam berkarya. Adalah laki-laki yang membagi nafasnya untuk hidupku, seseorang yang tak bisa kujelaskan dengan kata HANYA.


Miladani - Bintaro
Ayah adalah refleksi kehidupan esokku. segala kata yang terucap bak ramalan sekaligus mantra yang ampuh. mungkin ibarat kode, menguraikannya sungguh sulit. namun dibalik itu tersembunyi berbagai ilmu yang bisa dipetik.

Suparno - Duren Sawit
"Ayahku adalah Gambar Jiwaku: dimana semangatnya akan selalu melekat dan memberikan semangat yang tiada putus di setiap tarian jiwaku untuk menggantikan tanggung jawabnya kepada keluarga, yang kini ia wariskan kepada anak pertamanya. Dan setiap tetes keringat yang kujatuhkan kala sengat matahari menertawai--tak akan pernah menyamai atau bahkan menyaingi makna dari setetes keringatnya, yang pernah ia jatuhkan kala memikul beban hidup satu keluarga.

Semangatnya tergambar jelas dari hitam kulitnya, lebam di punggungnya, di kakinya, juga di tangannya kala mengusung batu -batu yang besar--dari kali ke daratan. Memecahnya menjadi kecil-kecil. Membawa pulang untuk menunggu pembeli yang datang ke rumah, kemudian diantarkan ke rumah para pembeli. Meskipun terkadang batu-batu sampai tumbuh lumut karena tidak datang juga yang dinanti.

Semangatnya mengalir lebih deras daripada hujan yang membasahi. Lebih kuat daripada sinar matahari yang menghitamkan kulitku. Lebih tajam daripada rumput dan batu yang berusaha mencuri semangatku. Sebab gambarnya terekam dalam dinding hati dan langit-langit mimpiku, meskipun gambar wajahnya tidak tertinggal di dunia ini. Yang memang saat itu kami sekeluarga tidak mengenal dan tidak tahu bagaimana cara membuat gambar di kertas, kemudian memajangnya di dinding rumah.

Ni'mah - Jepara

Ayahku adalah nafasku

Dia memberiku banyak motivasi
Sosok pekerja keras dan tak mudah putus asa
Keteguhan hatinya mampu menghapus air mataku
Setiap detik dalam nafasku hanya ayah yang ada dalam hatiku
Setiap jam dalam putaran waktu hanya ayah masih tetap di hatiku
Kasih sayangnya begitu besar
Mulutku tidak dapat berkata-kata melihat semangatnya
Ayah,aku mencintaimu sampai detik terakhir nafasku

 Iruka DW - Semarang
Ayahku adalah tangga nada, dari yang paling rendah hingga paling tinggi, memberi tanda dan suara yang berbeda.

Elisa Koraag - Tangerang
Ayah bagiku adalah kerlip cahaya lilin saat aku berada dalam kegelapan . Sumber pengharapan

Demikian beberapa Tulisan tentang Ayah. Bukan puisi bukan cerpen, hanya sebait definisi. Meski tak bisa aku berikan sesuatu untuk ayah, tapi akulah anakmu yang akan tetap selalu sayang padamu. Meski tak mampu menyamai sayangmu padaku, inilah aku yang benar-benar sayang padamu.

Baca juga karya kami dalam memperingati hari sumpah pemuda kami membuat Puisi Sumpah Pemuda yang semoga bisa membakar semangat jiwa muda untuk memajukan indonesia.


0 Response to "Sebuah Persembahan di Hari Ayah Nasional"

Poskan Komentar