Teori Resepsi Sastra

Setelah tempo lalu membahas mengenai Teori Psikoanalisis Sastra dan Sosiologi Sastra, kini kita mengupas tentang Teori Resepsi Sastra

Dalam Sastra Indonesia, teori resepsi, semiotika, dan interteks berkembang setelah strukturalisme. Ketiganya memiliki perbedaan, semiotika, melalui intensitas sistem tanda memberikan keseimbangan antara struktur intrinsik dan unsur ekstrinsik, resepsi sastra memberikan perhatian kepada pembaca, sedangkan interteks pada hubungan antara karya sastra satu dengan karya yang lain.

Teori-teori di atas merupakan termasuk teori postsrukturalisme sastra yang berdasar pada strukturalisme, dan strukturalisme sendiri lahir dari teori formalisme Rusia yang berkembang pada awal abad ke-20. Formalisme membedakan antara bahasa kesusastraan dan bahasa lainnya. Ciri khas yang terdapat di dalamnya adalah pola-pola suara dan kata-kata formal, bukan isi. Kemudian ciri khas strukturalisme adalah unsur-unsur dan totalitas dengan pola-pola antarhubungannya.

Teori strukturalisme berkembang sejak tahun 1930-an yang kemudian direvisi oleh teori postrukturalisme pada tahun 1980-an. Perlu dibahas sebelumnya bahwa kaum strukturalis menekankan makna (petanda) selalu dihasilkan dalam kaitannya dengan penanda, makna sebagai hasil artikulasi lambang-lambang, makna sebagai hasil perbedaan antara dua penanda.

Beberapa kelemahan strukturalisme dengan beberapa alasan:
  •     belum memiliki syarat sebagai teori yang lengkap;
  •     karya seni tidak bisa diteliti secara terpisah dari struktur sosial;
  •     kesangsian terhadap struktur objektif karya;
  •     karya sastra dilepaskan dari relevansi pembacanya;
  •     karya sastra juga dilepaskan dari relevansi sosial budaya yang melatarbelakanginya.

Teori strukturalisme memiliki hubungan yang kompleks dengan postrukturalisme, ia disempurnakan oleh teori postrukturalisme. Postrukturalisme mengatakan bahwa makna bukan hanya terkandung dalam teks, karena ia dianggap memiliki ketidakmantapan. Strukturalisme mengatakan bahwa makna ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh teks, bukan apa yang dimaksudkan. Oleh karena itu terjadi pergeseran dari estetika produksi ke estetika konsumsi. Makna teks tidak diproduksi oleh kontemplasi pasif (pengarang), tetapi partisipasi aktif (dengan pembaca).

Inilah yang dinyatakan oleh postrukturalisme, karya bukan milik pengarang tetapi milik pembaca, karya sebagai anonimitas. Makna karya (teks) tergantung pada konteks, interaksi pada pembaca, teks tidak tertutup, tapi terbuka karena berinteraksi ke luar dirinya. Perbedaan pandangan strukturalisme dan postrukturalisme adalah, strukturalisme memandang antarunsur dengan mekanisme yang relatif stabil, bahkan statis, sebaliknya postrukturalisme memandang bahwa antarunsur tersebut bersifat labil dan dinamis.

Peran pembaca menurut Aristoteles dalam Poetica dengan konsep katharsis adalah penyucian emosi (pembaca) melalui pementasan tragedi. Menurut Horatius, dalam Ars Poetica, dalam kaitannya dengan efek manfaat dan nikmat, karya seni yang baik sekaligus menyenangkan. Peran sastra dan pembaca dalam kehidupan praktis tampil dalam bentuk retorika, sedangkan resepsi lebih pada tanggapan-tanggapan pembaca.

Teori Resepsi Sastra

 Teori Resepsi Sastra


Dalam teori resepsi sastra, peran pembaca sangat ditonjolkan padahal pembaca sama sekali tidak memiliki relevansi dalam kaitannya dengan proses kreatif. Resepsi berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris), yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti luas yaitu, pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya, sehingga memberikan respon terhadapnya.

Resepsi sastra tampil sebagai sebuah teori yang dominan sejak tahun 1970-an, dengan pertimbangan:
  • sebagai jalan keluar untuk mengatasi strukturalisme yang hanya memberikan perhatian terhadap unsur-unsur;
  • timbulnya kesadaran untuk membangkitkan nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka kesadaran humanisme universal; kesadaran bahwa nilai-nilai karya sastra dapat dikembangkan hanya dengan kompetensi pembaca;
  • kesadaran bahwa keabadian nilai karya seni disebabkan oleh pembaca;
  • kesadaran bahwa makna terkandung dalam hubungan ambiguitas antara karya sastra dengan pembaca.
  • membedakan antara resepsi dan penafsiran. Resepsi bersifat reaktif, langsung atau tak langsung. Penafsiran lebih bersifat teoritis dan sistematis dan termasuk dalam kritik sastra.

Resepsi dibedakan menjadi dua bentuk, resepsi sinkronis dan resepsi diakronis. Resepsi sastra memiliki kaitan dengan sosiologi karena memanfaatkan masyarakat sebagai pembaca. Resepsi sastra memberikan perhatian pada aspek estetika, bagaimana karya sastra ditanggapi dan kemudian diolah, sedangkan sosiologi memberikan perhatian pada sifat hubungan dan saling mempengaruhi antara sastra dengan masyarakat. Resepsi juga memiliki hubungan dengan interteks karena keduanya mempermasalahkan hubungan antara dua teks atau lebih.

Peran pembaca sebagai totalitas dalam teori resepsi. Pembaca sama sekali tidak tahu-menahu tentang proses kreatif diberikan fungsi utama, sebab pembacalah yang menikmati, menilai, dan memanfaatkannya, sebaliknya penulis dianggap sebagai anonimitas. Oleh karena itu lahirlah istilah-istilah seperti: pembaca eksplisit, pembaca implisit, pembaca mahatahu, pembaca yang diintensikan, dsb.

Kompetensi pembaca seperti yang dikemukakan di atas didefinisikan sebagai perangkat konvensi untuk memahami teks. Aktivitas membaca mempersyaratkan bahwa pembaca sudah dibekali dengan sejumlah konsep, bukan pembaca sebagai tabula rasa. Konvensi dalam sastra bersifat terbuka dan beragam. Meskipun berbeda pembaca, tetapi konvensi yang sama memungkinkan untuk mengarahkan pada penafsiran yang relatif sama.

Baca Juga Perkembangan Kritik Sastra dan Ilmu Susastra

Demikian tentang Teori Resepsi Sastra, semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka:
  • Selden, 1986: 72 dalam Nyoman Kutha Ratna, S.U, 2007: 159
  • Teeuw, 1988: 139-140 dalam Nyoman Kutha Ratna, 2007: 160
  • Luxemburg, 1984: 62

0 Response to "Teori Resepsi Sastra"

Poskan Komentar